♫♫ GABUNG DISINI UNTUK SELALU DAPATKAN UPDATE BLOG ♫♫
♫♫ BLOG iNdOneSiA sAdJa MENYEDIAKAN DOWNLOAD MP3 DAN VIDEO INI HANYA SEKEDAR UNTUK REVIEW SAJA. UNTUK KEPEMILIKAN, BELILAH KASET / CD / VCD / DVD MP3 DAN VIDEO ORIGINALNYA ♫♫
♫♫ PROMOSIKAN GRUP MUSIK / BAND / GRUP DANGDUT dll MILIK ANDA DI BLOG INI. Silakan klik link PROMOSI INDIE ♫♫

25 May 2009

Apa sih ukuran tahu diri? Bimbang muncul dari tanya. Terutama pertanyaan orang lain. Misalnya mengapa saya masih berkaos dan kadang bercelana pendek padahal saya sudah tak muda lagi.

Maka saya pun menimbang, jangan-jangan itu sudah tak pantas, tapi sesudah itu lupa. Saya berkaos maupun berkemeja, bercelana pendek maupun berpantalon halus, itu soal kenyamanan — dan sesekali karena menyesuaikan diri dengan lingkungan.

Saya tak muda lagi. Dalam satu kata: tua. Itu alami, tak perlu disesali apalagi dilawan — pun tak perlu dibanggakan sebagai prestasi maupun disembunyikan selayaknya aib.

Saya menyadari sudah dan semakin tua antara lain karena foto dari tahun ke tahun. Ada saja yang berubah.

Memang saban hari saya becermin. Tapi itu pun sekadar berdiri di depan cermin ketika harus menggosok gigi dan mencukur kumis dan jenggot. Saya menduga alasan utama pria berlama-lama di depan cermin adalah karena menyisir rambut dan merapikan dasi.

Tapi selama-lamanya pria becermin itu berapa menit sih? Ketika seorang pria menipis rambutnya, bahkan habis, sehingga tak perlu menyisir, makin pendeklah waktu untuk becermin. Makin pendek pula waktu untuk bergenit diri memerksa kantong mata. Ketika kegiatan harian tak membutuhkan kemeja halus dan dasi, tak ada alasan berlama-lama di depan cermin.

Kesadaran telah menjadi tua tak hanya diperoleh dari foto diri dan cermin. Melihat anak yang rasanya baru kemarin di TK tapi sekarang sudah remaja, itu menambah kesadaran tentang ketuaan diri. Demikian pula ketika mendatangi warung kelontong milik tetangga blok sebelah, yang menyepi karena anak-anak pemilik warung sudah dewasa, menikah, berpindah rumah. Anak-anak yang rasanya baru kemarin terlihat bersepeda sambil berseru-seru.

Dengan maupun (terlebih) tanpa penjagaan kondisi fisik, menjadi tua berarti turunnya stamina. Menjadi tua juga terasa dari daya ingat yang perlahan memudar. Nama dan istilah tertentu bisa tiba-tiba hilang dari benak justru saat harus diucapkan. Bertambah tua juga berarti turunnya kemampuan melakukan multitugas dan pada saat yang sama gagap memanfaatkan teknologi untuk memperingan pekerjaan.

Menjadi tua bisa berarti banyak. Setidaknya konsumsi beras terus bertambah jika dihitung sejak bocah — tapi sayang itu bukan prestasi.

Muramkah menjadi tua? Wajah kian jelek memang iya. Tapi ada hal yang patut disyukuri. Meski mulai pikun, menjadi tua justru bertambah teman, bahkan dari kalangan yang jauh lebih muda.

Hidup ini menyenangkan. Jika bicara beban dan masalah, itu semua orang punya. Jika bicara soal berbagi, sekecil apapun, semua orang juga bisa (dan suka) — dan bisa diajak kerja sama.

iNdOneSiA sAdJa




Facebook Haram??

Dari 235 juta penduduk Indonesia, sekitar 813 ribu orang di antaranya menggunakan Facebook. Ini berdasarkan data Palo Alto California, yang merupakan pengelola situs jejaring sosial tersebut.

Melejitnya jumlah pengguna Facebook di Indonesia ini menyulut kekhawatiran sekitar 700 ulama se-Jawa Timur. Padahal juru bicara Facebook, Debbie Frost, mengklaim situs tersebut memudahkan penggunanya mencari teman dan berkomunikasi secara positif.Namun para tokoh Islam berpendapat meluasnya jejaring sosial tersebut juga dapat berdampak negatif karena bisa digunakan untuk transaksi negatif seperti seks terselubung.

"Para tokoh muslim atau imam di Indonesia berpandangan sebaiknya ada fatwa atau batasan mengenai jejaring sosial maya, di mana dalam pandangan mereka pergaulan terbuka mampu mengundang birahi atau hasrat yang di dalam ajaran Islam diharamkan," ujar juru bicara Pondok Pesantren Lirboyo, Jawa Timur Nabil Haroen seperti dilansir Associated Press, Jumat (22/5/).

Pesantren Lirboyo, menurut Nabil, masih memperbolehkan santrinya menggunakan Facebook asal tidak mengarah ke hal-hal yang berbau porno atau mengundang birahi.

Sementara itu hasil pertemuan Forum Musyawarah Pondok Pesantren Putri (FMP3) se-Jatim di Pondok Pesantren Putri Hidayatul Mubtadien Lirboyo, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, yang dilaksanakan sejak Rabu mengharamkan komunikasi dua orang berlainan jenis yang bukan muhrim baik melalui Facebook, Friendster, SMS maupun 3G secara berlebihan.

"Larangan ini kami keluarkan sesuai aturan agama," kata seorang anggota perumus Komisi C FMP3, Masruhan, Jumat.

Namun jika komunikasi tersebut terkait keinginan untuk menikah, menurut Masruhan, tetap diperbolehkan.

Nabil meminta bantuan Majelis Ulama Indonesia (MUI) agar untuk menyosialisasikan hukum haram berhubungan dengan lawan jenis via HP, 3G, Facebook, Friendster.

Namun ternyata MUI belum berniat membahas Facebook. Anggota MUI Amidhan bahkan menyatakan belum mendengar rencana ulama seJatim tersebut. Kalaupun ulama di Jatim membahasnya, menurut Amidhan, itu semacam keprihatinan.

Secara pribadi, Amidhan menilai situs pertemanan itu tidak melulu berdampak negatif. "Kalau digunakan murni untuk kebaikan, saya kira tidak ada masalah. Tapi kalau menimbulkan hal-hal tidak baik, ya harus ditindak," tuturnya.

Kabar para ulama Jatim membahas fatwa haram Facebook ternyata tidak benar. Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, KH Idris Marzuki membantah pernyataan tersebut.

Bahkan Kiai Idris membantah kenal dengan orang yang mengatasnamakan juru bicara Ponpes Lirboyo, Nabil Haroen. "Tidak ada itu, saya bahkan tidak kenal dengan Nabil," ujarnya saat dihubungi kemarin.

Kiai Idris mengaku memang ada pertemuan ulama se-Jatim dengan agenda membahas persoalan umat kontemporer. Namun pertemuan itu sama sekali tidak menyinggung tentang hukum Facebook. "Tadi malam pertemuannya selesai. Tapi tidak ada bahas itu," ungkapnya.

Ketua DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar tak percaya ulama se-Jatim mengeluarkan fatwa haram Facebook.
"Gak mungkin ada," ujar lulusan Pondok Pesantren Mambaul Maarif, Denanyar, Jombang itu.

Lebih lanjut, keponakan Gus Dur tersebut mengaku dirinya juga gemar membuka Facebook saat waktu luangnya. "Saya punya tiga facebook," ungkapnya.

sumber http://www.banjarmasinpost.co.id/


iNdOneSiA sAdJa




Gw tertegun melihat penari di depan kendaraan yang berhenti menunggu lampu hijau menyala. Mereka berkostum unik, menggunakan busana khas kuda lumping dan menari di tengah perempatan dengan di iringi musik gamelan Jawa yang sangat sederhana.Sungguh kreatif mereka. Para penari dan penabuh gamelan yang berasal dari Temanggung Jawa Tengah ini mengadu nasib ke Yogyakarta dengan "ngamen" di perempatan jalan.

Awalnya gw kira itu hanya sebuah hiburan progran Dinas Pariwisata DIY, tapi kok minta "sumbangan ngamen"? ternyata mereka tidak ada hubungannya dengan Dinas Pariwisata. "Kami cari duit mas.. daripada nganggur dirumah, ya kita ngamen. Karena kami bisanya kaya gini jadi ngamennya ya kaya gini.. sekalian nyelamatin budaya tempat kami mas.. udah jarang yang tau mas budaya kaya gini.." kata seorang penari.

Saat gw tanya sih katanya mereka berasal dari sebuah kelompok Kuda Lumping dari Kota Temanggung Jawa Tengah. Mereka berangkat satu Grup (sekitar 20 Otang) di bagi menjadi 4 kelompok masing-masing 5 Orang. 1 kelompok di Perempatan Kentungan (Ringroad Utara - Jl. Kaliurang), 2 kelompo di ruas utara dan ruas selatan Ringroad Gejayan (Condong Catur) dan 1 kelompok lagi di.. enggak tau tempatnya mas.. tappi di perempatan juga kata salah satu penabuh gamelannya.

Tiap orang berdandan ala kuda lumping, 2 orang penabuh gamelan dan 3 orang penari. Saat lampu merah menyala, gamelan mulai dibunyikan dan penari mulai beraksi di depan kendaraan yang berhenti. Saat menjelang lampu hijau menyala, penari berjalan menuju kerumunan kendaraan untuk minta "sumbangan ngamen". Saat lampu hijau mereka berkumpul untuk istirahat sejenak sekedar minum atau ngobrol.

Kata salah satu penari, "Kita biasanya berpindah-pindah mas, tidak selalu di satu perempatan atau selalu di Jogja. Kita biasanya pindah ke kota sekitar yang jalannya ramai. Kadang ke Semarang, Solo, Magelang. Tergantung kondisi mas. Kalo pas tidak ada yg sewa kita untuk hiburan ya kita ngamen kaya gini. Order bisa sepi mas, tapi kan keluarga juga butuh makan.."

Saat ku tanya masalah penghasilan, salah satu pemain gamelan mengatakan "ga mesti mas.. kalo lagi ujan biasanya sedikit, kitapun tidak bisa maksimal mainnya. Kalo lagi rame kaya gini lumayan mas.. bisa sekitar 500 ribu sampai 1 juta tiap kemompoknya seharinya." Wow.. hasil yang sangat besar..

Nih gw ada beberapa Foto tentang aktifitas mereka..





















Tanpa kita sadari, mereka memang hanya "ngamen" tapi mereka masih dengan semangat melestarikan budaya tradisional daerah mereka. Sungguh perbuatan yang sangat patut dijadikan teladan. Justru orang-orang seperti mereka yang patut mendapatkan penghargaan dari pemerintah karena punya jiwa penyelamat terhadap aset budaya negeri.

Keramahan mereka dan sambutan mereka membuat gw ga merasa sayang merogoh kocek buat nambahin hasil mereka.. Terimakasih teman buat liputan hari ini.. Semoga sukses dengan usaha kalian.. Gw bangga ma kalian..

iNdOneSiA sAdJa




;;


Kembali ke halaman muka Mohon untuk selain admin untuk jangan klik disini!! PROMOSIKAN GRUP MUSIK / BAND / GRUP DANGDUT dll MILIK ANDA DI BLOG INI. Klik Aku donK!!