♫♫ GABUNG DISINI UNTUK SELALU DAPATKAN UPDATE BLOG ♫♫
♫♫ BLOG iNdOneSiA sAdJa MENYEDIAKAN DOWNLOAD MP3 DAN VIDEO INI HANYA SEKEDAR UNTUK REVIEW SAJA. UNTUK KEPEMILIKAN, BELILAH KASET / CD / VCD / DVD MP3 DAN VIDEO ORIGINALNYA ♫♫
♫♫ PROMOSIKAN GRUP MUSIK / BAND / GRUP DANGDUT dll MILIK ANDA DI BLOG INI. Silakan klik link PROMOSI INDIE ♫♫

08 June 2009



Tapa brata adalah lelaku yan sudah terfokus pada ‘sangkan-paraning dumadi’ (manungaling kawula Gusti), sehingga hati sanubarinya menjadi bersih. Tapa brata dalam kalangan masyarakat Jawa, dianggap sebagai bentuk ‘panembah’ atau dalam rangka mendekatkan diri kepada Gusti Kang Akarya Jagat (Allah). Terlebih lagi dalam lelaku tapa brata tersebut, telah ada tauladan yang baik, seperti tapa brata-nya Kanjeng Panembahan Senapati di Mataram.

Sri Mangkunegara IV menuturkan : “Nuladha laku utama; tumpraping wong tanah Jawi, wong agung ing Ngeksi ganda, Penembahan Senapati, kadapi amarsudi, sudaning hawa lan nafsu, pinesu tapa barata tenapi ing siyang ratri, amamangun karyenak tuasung sesama.”


Artinya : “Tirulah tindak utama, bagi mereka yang di Tanah Jawa (masyarakat Jawa), orang agung di Mataram, sangat serius dalam berusaha atau belajar, mengurangi hardaning hawa nafsu, dengan menjalankan tapa brata, baik pada siang hari maupun malam hari, selalu berbuat baik dengan membuat senag sesama manusia”.

Tapa barat yang dilakukan Kanjeng Panembahan Senapati di Mataram tersebut, nampaknya sangat sempurna. Terlihat dengan adanya dua akses sekaligus. Pertama, akses yang bersifat ke dalam diri, yakni dimaksudkan untuk menundukkan hardaning hawa nafsu sebagai pembersihan angan-angan kotor di dalam diri. Kedua, akses bersifat ke luar, yakni bersikap positif dengan ditunjukkan karyenak tyse sesama (membuat senang kepada sesama manusia). Sebagaimana tapa brata yang dilakukan Kanjeng Panembahan Senapati di mataram, termasuk di dalamnya cegah dhahar lan gulin (mengurangi makan dan tidur) secara rutin siang dan malam, dikenal pula bentuk tapa brata yang bermacam-macam :
  1. Tapa Ngalong, yakni tapa brata dengan menggantung terbalik seperti kalong (kelelawar), kedia kaki diikat pada dahan pohon.
  2. Tapa Ngluwat, yakni tapa brata (bersemedi) di samping makam seseorang dalam jangka waktu tertentu.
  3. Tapa mBisu, yakni menahan diri dari berbicara atau berkata-kata.
  4. Tapa Bolot, yakni tidak mandi dan tidak membersihkan diri dalam jangka waktu tertentu.
  5. Tapa Ngidang, yakni menjauhi dunia keramaian dengan tinggal di dalam hutan seraya makan apa adanya sebagaimana rusa (kidang).
  6. Tapa Ngrambang, yakni menyendiri di dalam hutan dan hanya makan tumbuh-tumbuhan.
  7. Tapa Kungkum (Tapa Ngambang), yakni berendam (kungkum) atau ngmbang di dalam sungai dalam waktu tertentu.
Semua itu menunjukkan adanya bentuk tirakat (lara-lapa). Dalam pewayangan (pendhalangan) pun disebutkan, misalnya tapa ngalong dan tapa ngidang yang dilakukan oleh Subali-Sugriwa atas perintah ayahanda Reso Gotama. Sedangkan Anjani (saudara Subali-Sugriwa) saat itu menjalani tapa wuda (dengan telanjang bulat) di dekat danau.


sumber http://myzavier.blogspot.com/


iNdOneSiA sAdJa




Si Cepot


kenalkeun yeuh nama saya teh Cepot anu terkenal tea…. heheheheh

Cepot adalah salah satu tokoh dalam pewayangan yang cukup terkenal di daerah sunda lewat kesenian wayang golek tea… Karakter sicepot teh terkenal karena si cepot merupakan karakter yang lucu dan wajahnya yang unik itulah yang bikin kita selalu mengingatnya….

Pokonya tingkah lakunya sicepot selalu bikin ketawa dagh… wajahnya yang merah dan giginya yang menonjol itu merupakan ciri khasnya si Cepot… si Cepot juga buat orang-orang sunda merupakan pahlawan budaya melalui banyolan yang dibawakan dalang yang memainkan wayang golek yang menampilkan si Cepot yang merupakan salah satu budaya sunda yang sampai saat ini masih di gemari oleh masyarakat sunda selalu menjadi daya tarik kebudayaan sunda yang unik-unik dan menarik…… si Cepot juga gak hanya ngegunain pakaian yang itu-itu aja…. sekarang sudah banyak pengrajin wayang golek yang membuat si Cepot menjadi sangat menarik



share from : cepmanshur site


iNdOneSiA sAdJa




31 May 2009

Ramalan Jayabaya

Ramalan Jayabaya, Ratu Adil dan Jaman Keemasan Indonesia


RAMALAN JAYABAYA, adalah ramalan tentang keadaan Nusantara di suatu masa di masa datang. Dalam Ramalan Jayabaya itu dikatakan, akan datang satu masa penuh bencana.

Gunung-gunung akan meletus, bumi berguncang-guncang, laut dan sungai, akan meluap. Ini akan menjadi masa penuh penderitaan. Masa kesewenang-wenangan dan ketidakpedulian. Masa orang-orang licik berkuasa, dan orang-orang baik akan tertindas. Tapi, setelah masa yang paling berat itu, akan datang jaman baru, jaman yang penuh kemegahan dan kemuliaan. Zaman Keemasan Nusantara. Dan jaman baru itu akan datang setelah datangnya sang Ratu Adil, atau Satria Piningit.

Ramalan Jayabaya ditulis ratusan tahun yang lalu, oleh seorang raja yang adil dan bijaksana di Mataram. Raja itu bernama Prabu Jayabaya (1135-1159). Ramalannya kelihatannya begitu mengena dan bahkan masih diperhatikan banyak orang ratusan tahun setelah kematiannya. Bung Karno pun juga merasa perlu berkomentar tentang ramalan ini.

“Tuan-tuan Hakim, apakah sebabnya rakyat senantiasa percaya dan menunggu-nunggu datangnya “Ratu Adil”, apakah sebabnya sabda Prabu Jayabaya sampai hari ini masih terus menyalakan harapan rakyat ? Tak lain ialah karena hati rakyat yang menangis itu, tak habis-habisnya menunggu-nunggu, mengharap-harapkan datangnya pertolongan. Sebagaimana orang yang dalam kegelapan, tak berhenti-berhentinya menunggu-nunggu dan mengharap-harap “Kapan, kapankah Matahari terbit?”.
Sukarno, 1930, Indonesia Menggugat


Ramalan Jayabaya ini memang lumayan fenomenal, banyak ramalannya yang bisa ditafsirkan “mirip” keadaan sekarang. Diantaranya :

1. Datangnya bangsa berkulit pucat yang membawa tongkat yang bisa membunuh dari jauh dan bangsa berkulit kuning dari Utara ( jaman penjajahan ).
2. “kreto mlaku tampo jaran”, “Prau mlaku ing nduwur awang-awang”, kereta tanpa kuda dan perahu yang berlayar di atas awan (mobil dan pesawat terbang?)
3. Datangnya jaman penuh bencana di Nusantara (Lindu ping pitu sedino, lemah bengkah, Pagebluk rupo-rupo, gempa 7 x sehari, tanah pecah merekah, bencana macam-macam.
4. Dan ia bahkan (mungkin) juga meramalkan global warming, “Akeh udan salah mongso”, datangnya masa dimana hujan salah musim.


Nah, naik turunnya peradaban sebenarnya sudah banyak dianalisis, bahkan sejak ratusan tahun lalu. Diantaranya oleh Ibnu Khaldun (Muqaddimah, 1337), Gibbon (Decline and Fall, 1776), Toynbee (A Study of History), atau Jared Diamond. Intinya sederhana. Manusia atau bangsa, bisa berubah. Manusia bisa lupa, dan sebaliknya juga bisa belajar. Bangsa bisa bangkit, hancur, dan bisa juga bangkit lagi.


Bagaimana dengan Satria Piningit ?

Banyak juga teori tentang manusia-manusia istimewa yang datang membawa perubahan. Di dunia, orang-orang itu sering disebut “Promethean”, diambil dari nama dewa Yunani Prometheus yang memberikan api (pencerahan) pada manusia. Toynbee menamakannya Creative Minorities. Tapi mereka bukan sekedar “manusia-manusia ajaib”, melainkan orang-orang yang memiliki kekuatan dahsyat, yaitu kekuatan ilmu, dan kecintaan pada bangsanya, sesama manusia, dan pada Tuhannya. Lihat misalnya berapa banyak hadis Nabi Muhammad tentang pentingnya ilmu. Dan perhatikan lanjutan pidato Bung Karno ini :

"Selama kaum intelek Bumiputra belum bisa mengemukakan keberatan-keberatan bangsanya, maka perbuatan-perbuatan yang mendahsyatkan itu (pemberontakan) adalah pelaksanaan yang sewajarnya dari kemarahan-kemarahan yang disimpan … terhadap usaha bodoh memerintah rakyat dengan tidak memperhatikan dengan sungguh-sungguh keinginan-keinginan dan kepentingan-kepentingan mereka…”


Satria piningit, adalah orang-orang yang peduli pada bangsanya, berilmu tinggi, dan telah memutuskan untuk berbuat sesuatu. Merekalah, dan hanya merekalah yang bisa melawan kehancuran, dan akhirnya membangkitkan peradaban.

Di jaman kegelapan, selalu ada saja orang yang belajar. Diantara banyak orang lupa, selalu ada saja orang baik. Bahkan walau cuma satu orang. Kadang, kerusakan itu justru membakar jiwanya untuk berbuat sesuatu. Belajar, Berjuang, Berkorban. Seperti Nabi Muhammad yang melihat bangsanya hancur, atau Sukarno yang melihat bangsanya diinjak-injak. Mereka lalu berjuang menyelamatkan bangsanya. Promethean, Ratu Adil yang mendatangkan zaman kebaikan.

Ramalan Jayabaya mungkin bisa dipahami secara ilmiah, bahwa manusia dan peradaban memang selalu bisa bangkit, hancur, dan bangkit lagi. Dan mungkin karena Jayabaya menyadari manusia bisa lupa, dia sengaja menulis ini sebagai peringatan agar manusia tidak lupa. Dan itulah satu tanda kearifan sang Prabu Jayabaya.

Mungkin, ini juga dorongan pada manusia agar selalu berbesar hati, optimis. Bahwa di saat yang paling berat sekalipun, suatu hari akhirnya akan datang juga Masa Kesadaran, Masa Kebangkitan Besar, Masa Keemasan Nusantara.

Percaya atau tidak ? Anda tidak perlu percaya, tidak perlu tidak percaya. Bagaimanapun ini adalah cerita yang penuh pesan.


iNdOneSiA sAdJa




25 May 2009

Gw tertegun melihat penari di depan kendaraan yang berhenti menunggu lampu hijau menyala. Mereka berkostum unik, menggunakan busana khas kuda lumping dan menari di tengah perempatan dengan di iringi musik gamelan Jawa yang sangat sederhana.Sungguh kreatif mereka. Para penari dan penabuh gamelan yang berasal dari Temanggung Jawa Tengah ini mengadu nasib ke Yogyakarta dengan "ngamen" di perempatan jalan.

Awalnya gw kira itu hanya sebuah hiburan progran Dinas Pariwisata DIY, tapi kok minta "sumbangan ngamen"? ternyata mereka tidak ada hubungannya dengan Dinas Pariwisata. "Kami cari duit mas.. daripada nganggur dirumah, ya kita ngamen. Karena kami bisanya kaya gini jadi ngamennya ya kaya gini.. sekalian nyelamatin budaya tempat kami mas.. udah jarang yang tau mas budaya kaya gini.." kata seorang penari.

Saat gw tanya sih katanya mereka berasal dari sebuah kelompok Kuda Lumping dari Kota Temanggung Jawa Tengah. Mereka berangkat satu Grup (sekitar 20 Otang) di bagi menjadi 4 kelompok masing-masing 5 Orang. 1 kelompok di Perempatan Kentungan (Ringroad Utara - Jl. Kaliurang), 2 kelompo di ruas utara dan ruas selatan Ringroad Gejayan (Condong Catur) dan 1 kelompok lagi di.. enggak tau tempatnya mas.. tappi di perempatan juga kata salah satu penabuh gamelannya.

Tiap orang berdandan ala kuda lumping, 2 orang penabuh gamelan dan 3 orang penari. Saat lampu merah menyala, gamelan mulai dibunyikan dan penari mulai beraksi di depan kendaraan yang berhenti. Saat menjelang lampu hijau menyala, penari berjalan menuju kerumunan kendaraan untuk minta "sumbangan ngamen". Saat lampu hijau mereka berkumpul untuk istirahat sejenak sekedar minum atau ngobrol.

Kata salah satu penari, "Kita biasanya berpindah-pindah mas, tidak selalu di satu perempatan atau selalu di Jogja. Kita biasanya pindah ke kota sekitar yang jalannya ramai. Kadang ke Semarang, Solo, Magelang. Tergantung kondisi mas. Kalo pas tidak ada yg sewa kita untuk hiburan ya kita ngamen kaya gini. Order bisa sepi mas, tapi kan keluarga juga butuh makan.."

Saat ku tanya masalah penghasilan, salah satu pemain gamelan mengatakan "ga mesti mas.. kalo lagi ujan biasanya sedikit, kitapun tidak bisa maksimal mainnya. Kalo lagi rame kaya gini lumayan mas.. bisa sekitar 500 ribu sampai 1 juta tiap kemompoknya seharinya." Wow.. hasil yang sangat besar..

Nih gw ada beberapa Foto tentang aktifitas mereka..





















Tanpa kita sadari, mereka memang hanya "ngamen" tapi mereka masih dengan semangat melestarikan budaya tradisional daerah mereka. Sungguh perbuatan yang sangat patut dijadikan teladan. Justru orang-orang seperti mereka yang patut mendapatkan penghargaan dari pemerintah karena punya jiwa penyelamat terhadap aset budaya negeri.

Keramahan mereka dan sambutan mereka membuat gw ga merasa sayang merogoh kocek buat nambahin hasil mereka.. Terimakasih teman buat liputan hari ini.. Semoga sukses dengan usaha kalian.. Gw bangga ma kalian..

iNdOneSiA sAdJa




24 May 2009

Layang-layang



Layang-layang adalah salah satu penemuan nenek moyang bangsa Tionghoa pada zaman kuno. Mainan layang-layang tidak hanya semacam seni yang penuh estetika, tapi juga merupakan sarana olahraga yang dapat membugarkan jasmani.

Lang-layang Tiongkok mempunyai sejarah yang lama. Menurut catatan sejarah, jauh pada tahun 400 Sebelum Masehi, pemikir besar Tiongkok Mozi dan sesepuh tukang kayu Tiongkok bernama Luban pernah membuat burung kayu atau bambu. Burung yang diberi nama "Muyuan" itu bisa terbang selama tiga hari di udara tanpa jatuh. Itulah layang-layang yang paling awal dalam sejarah dunia. Kemudian, Muyuan dibuat dengan kain sutra dan kemudian lagi dibuat dengan kertas dengan namanya pun diganti menjadi "zhiyuan", artinya ialah burung kertas. Pada akhir masa Dinasti Tang antara tahun 618 dan 907 Masehi, pada Zhiyuan atau layang-layang kertas dipasang kain sutra atau seruling yang dapat berbunyi. Setelah itu, Zhiyuan mendapat namanya yang baru, yaitu Fengzheng atau layang-layang yang dipakai sampai zaman sekarang.

Layang-layang pada zaman kuno sering dipakai sebagai alat militer, misalnya dilayangkan di udara untuk menghitung jarak antara dua tentara atau digunakan untuk menyampaikan informasi militer. Pada masa Dinasti Tang, layang-layang berangsung-angsur berubah menjadi mainan yang semata-mata digunakan untuk rekreasi rakyat. Pada masa Dinasti Song abad ke-10, layang-layang disebarkan ke lebih banyak daerah, antara lain, Korea, Jepang dan Malaysia, kemudian layang-layang pun tersebar ke Eropa dan Benua Amerika. Di Eropa dan Benua Amerika, layang-layang berkembang ke arah wahana terbang. Pada akhirnya, dua pria bersaudara Wright Brothers berhasil membuat pesawat terbang pertama di dunia yang dapat terbang dengan awak. Di Museum Antariksa dan Penerbangan Washington Amerika terpasang sebuah layang-layang Tiongkok. Kata-kata di atasnya berbunyi: wahana terbang paling awal manusia adalah layang-layang dan roket buatan Tiongkok.


Perkembangan layang-layang Tiongkok mencapai masa emasnya pada masa Dinasti Ming dan Dinasti Qing, dua dinasti terakhir dalam sejarah Tiongkok yang berkuasa antara tahun 1368 dan 1911. Pada waktu itu, layang-layang baik dari bentuknya, maupun dari teknik pembuatan dan dekorasinya tampaknya cukup matang. Kerajinan tangan dan teknik pembuatan layang-layang pada masa itu berpadu sehingga dekorasi layang-layang menjadi semakin variasi. Alat pembuat bunyi di layang-layang juga mengalami perkembangan yang cukup besar. Peluit terbuat dari labu kendi dan buah ginko yang dipasang pada layang-layang dapat berbunyi nyaring dan didengar sejauh beberapa kilometer. Waktu itu kaum intelektual berkebiasaan membuat layang-layang sendiri untuk diberikan kepada sahabat sebagai hadiah atau cendera mata. Karya sajak dan gambar yang bertopik layang-layang pun bermunculan pada masa itu. Pengarang terkenal Cao Xueqin adalah salah seorang tokoh representatif pada waktu itu. Cao Xueqin dalam novelnya Impian Wisma Merah melukiskan dengan teliti bagaimana menerbangkan layang-layang. Selain itu, ia juga menulis buku tentang layang-layang. Dalam buku itu Cao Xueqin memperkenalkan 40 lebih cara pembuatan layang-layang.

Sejalan dengan jalannya sejarah, layang-layang Tiongkok berangsur-angsur membentuk gayanya sendiri.

Dilihat dari topiknya, layang-layang terbagi dalam tiga kategori, yaitu pertama, binatang, misalnya burung elang, pheniks, kupu-kupu, ikan emas, naga, halipan dan belibis. Kedua, tokoh dongeng legendaris, karya sastera atau opera tradisional. Misalnya Raja Monyet Sun Wukong, dewi langit, dan bocah gemuk membopong ikan besar. Ketiga, barang-barang keperluan sehari-hari, misalnya kipas, keranjang dan lampion bundar.

Dilihat dari gaya pembuatannya, layang-layang Tiongkok bermacam-macam dan sulit dihitung satu per satu. Di tempat-tempat yang terkenal dengan pembuatan layang-layang, antara lain, Beijing dan Tianjin di Tiongkok Utara, Sichuan di Tiongkok Barat Daya serta Shandong di Tiongkok Timur, layang-layang yang dihasilkannya mempunyai ciri khas sendiri. Misalnya Tianjin terkenal dengan layang-layang kawanan belibis, sedangkan Shandong terkenal dengan layang-layang "kepala naga tubuh halipan". Layang-layang itu bisa kecil sekali sehingga bisa dimasukkan dalam kotak mini, tapi juga bisa sebesar ratusan meter panjangnya dengan warna dan bentuknya berlainan. Pada tahun 1984, di Pekan Raya Layang-layang Internasional Weifang Shandong Pertama diterbangkan satu layang-layang "kepala naga dan tubuh halipan" yang mengagumkan, tinggi kepalanya 4 meter dan lebarnya 4 meter dengan diameter tubuhnya 1,2 meter. Panjangnya layang-layang itu tercatat 320 meter, merupakan layang-layang yang paling panjang di Tiongkok pada waktu itu.

Layang-layang Tiongkok adalah perpaduan teknik kerajinan dan kesenian. Sekarang semakin banyak orang di dunia yang tertarik oleh keindahan dan pesona yang dimanifestasikan layang-layang Tiongkok. Sekarang Pekan Raya Layang-layang Internasional Weifang telah menjadi pesta layang-layang internasional yang diadakan setahun sekali. Pada April setiap tahun, banyak pemain elit layang-layang baik dalam maupun luar negeri akan berkumpul di Weifang, Shandong Tiongkok Timur untuk saling bertukar pengalaman dan berkompetisi. Dengan demikian, Weifang pun menjadi museum layang-layang terbesar di dunia, di mana tersimpan dan diperagakan layang-layang terbaik dunia, baik dulu maupun sekarang.


iNdOneSiA sAdJa




21 May 2009



Selalu ada sensasi tersendiri setiap memasuki wilayah Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Pemandangan para abdi dalem dengan beskap maupun kebaya, suasana yang tenang, keramahan yang orisinil, dan alunan indah bahasa kromo inggil yang muncul dari mulut para abdi dalem tersebut setiap diajak berbicara. Sebuah keadaan yang akan semakin sulit ditemukan diluar wilayah Keraton.

Yogyakarta telah lama dikenal sebagai kota budaya. Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat memegang peranan penting sebagai pusat dan sumber kebudayaan yang dimiliki oleh kota Yogyakarta. Namun predikat sebagai kota budaya bukan tidak mungkin sebentar lagi akan dicopot dari Yogyakarta. Kebudayaan yang diagung-agungkan dan menjadi trade mark Yogyakarta ternyata lambat laun mulai tergeser akibat arus globalisasi yang semakin kencang berhembus. Dalam peta Pariwisata Indonesia, Yogyakarta termasuk salah satu favorit tujuan para wisatawan (baik Mancanegara maupun domestik). Setiap musim liburan tiba, kita dapati jalan-jalan di kota kita ini terasa semakin sesak dengan wisatawan yang berkunjung. Salah satu yang diunggulkan Yogyakarta sebagai ujung tombak pariwisata adalah wisata budaya. Menurut E.B Taylor (1982), kebudayaan sebagai keseluruhan yang kompleks yang terkandung didalamnya pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat manusia sebagai anggota suatu masyarakat.

Generasi muda memegang peranan kunci demi kelestarian sebuah kebudayaan. Namun kecenderungan yang terjadi di Yogyakarta dewasa ini adalah; semakin menipisnya perhatian atau minat generasi muda dalam hal pelestarian kebudayaan. Hal ini dapat dilihat dari pola dan gaya hidup generasi muda Yogyakarta yang sudah semakin jauh meninggalkan identitas ke”Jogjaan”nya. Memang tidak dapat disalahkan apabila para generasi muda, khususnya remaja, di kota Jogjakarta lebih mengakrabi budaya pop ketimbang budaya warisan leluhur yang bersahaja. Peran media sangat besar dalam memperngaruhi orientasi budaya kalangan muda ini. Muncul istilah generasi MTV yang mengacu pada budaya dan gaya hidup yang penuh dengan hura-hura, glamour dan kekayaan yang tidak masuk akal. Remaja dengan tingkat emosi dan pemahaman yang masih labil secara mentah-mentah menduplikasi apa-apa yang mereka lihat melalui televisi pada kehidupan sehari-hari mereka, baik dalam budayanya dan terlebih dalam dandanannya. Hal ini sangat mengkhawatirkan. Lambat laun tradisi dan budaya asli Yogyakarta yang anggun dan bersahaja itu bakal tergusur dan akan benar-benar lenyap dari kehidupan sehari-hari masyarakat Jogja sendiri.



Contoh sederhana adalah penggunaan bahasa Jawa sebagai bahasa pengantar sehari-hari mulai tergusur dengan bahasa Indonesia, yang sebenarnya juga bukan murni bahasa Indonesia, karena banyak mengandung sisipan dan istilah-istilah yang populer dengan bahasa gaul. Tak pelak lagi bahasa jawa yang memiliki tingkatan-tingkatan seperti kromo inggil, kromo alus, sampai ngoko mulai jarang bisa kita dengarkan dari mulut seorang remaja yang berbicara kepada orang tuanya, atau seorang adik kepada kakaknya.

Dari segi tradisi, telah lama kita tahu bahwa THR Yogyakarta telah menjadi Purawisata yang mengandalkan musik dangdut sebagai acara pokoknya, yang mana dangdut jelas-jelas bukan merupakan budaya asli dari Yogyakarta. Kadang muncul keinginan untuk dapat menyaksikan pertunjukan kethoprak atau wayang orang seperti yang secara rutin masih dipentaskan di taman Sriwedari Solo. Bisa dipastikan dengan keadaan seperti ini semakin banyak generasi muda asli Yogyakarta yang buta akan kesenian wayang kulit, kethoprak, wayang orang, dan tari-tarian asli peninggalan kebudayaan Yogyakarta, dikarenakan tidak ada lagi tempat yang secara kontinyu menyajikan kesenian-kesenian tradisional tersebut.

Tradisi Sekaten yang merupakan tradisi peninggalan leluhur juga menuai kontroversi setiap perayaannya. Sekaten dituding sudah bukan lagi milik rakyat, karena kental dengan aroma komersialisme yang mengalahkan nuansa tradisinya itu sendiri. Sungguh kasihan generasi penerus di Jogjakarta. Suatu saat mungkin mereka hanya bisa mendapatkan informasi tentang sejarah tradisi dan kebudayaan kota mereka sendiri melalui buku pelajaran.

Pemerintah Propinsi DIY seharusnya sadar betapa pentingnya melestarikan tradisi dan kebudayaan asli daerah. Pelestarian budaya dan tradisi Jogja bukanlah semata-mata tanggung jawab Keraton, namun juga tanggung jawab kita semua sebagai warga Jogja yang harus didukung sepenuhnya oleh Pemprop DIY. Pelestarian sebuah kebudayaan adalah sebuah tindakan yang harus dilakukan secara terus menerus, bukannya terputus. Mungkin ada baiknya apabila pemerintah membangun semacam pusat kebudayaan, yang secara rutin menampilkan budaya-budaya asli Yogyakarta, seperti tarian, kethoprak, wayang orang dan wayang kulit. Tidak hanya cukup mendata grup-grup kesenian tradisional saja, tetapi juga memberi pembinaan yang serius terhadap kebudayaan-kebudayaan Yogyakarta yang sudah diambang kepunahan, seperti nggamel dan macapatan. Semoga Yogyakarta tetap diingat sebagai kota yang berbudaya.


iNdOneSiA sAdJa




20 May 2009

Sejarah Jamu


SEJARAH JAMU | Sampai saat ini belum dapat dipastikan sejak kapan tradisi meracik dan meminum jamu muncul. Tapi diyakini tradisi ini telah berjalan ratusan bahkan ribuan tahun. Tradisi meracik dan meminum jamu sudah membudaya pada periode kerajaan Hindu-Jawa. Hal ini dibuktikan dengan adanya Prasasti Madhawapura dari jaman Majapahit yang menyebut adanya profesi ‘tukang meracik jamu’ yang disebut Acaraki.

Jamu sudah dikenal sudah berabad-abad di Indonesia yang mana pertama kali jamu dikenal dalam lingkungan Istana atau keraton yaitu Kesultanan di Djogjakarta dan Kasunanan di Surakarta.

Jaman dahulu resep jamu hanya dikenal dikalangan keraton dan tidak diperbolehkan keluar dari keraton. Tetapi seiring dengan perkembangan jaman, orang-orang lingkungan keraton sendiri yang sudah modern, mereka mulai mengajarkan meracik jamu kepada masyarakat diluar keraton sehingga jamu berkembang sampai saat ini tidak saja hanya di Indonesia tetapi sampai ke luar negeri.

Bagi masyarakat Indonesia, Jamu adalah resep turun temurun dari leluhurnya agar dapat dipertahankan dan dikembangkan.

Bahan-bahan jamu sendiri diambil dari tumbuh-tumbuhan yang ada di Indonesia baik itu dari akar, daun, buah, bunga, maupun kulit kayu.

Sejak dahulu kala, Indonesia telah dikenal akan kekayaannya, tanah yang subur dengan hamparan bermacam-macam tumbuhan yang luas.

Tanah yang subur dengan kekayaan tanaman sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat Indonesia karena mereka bergantung dari alam dalam usahanya untuk memenuhi bermacam-macam kebutuhan. Pengolahan tanah, pemungutan hasil panen, proses alam tidak hanya menghasilkan makanan, tetapi juga berbagai produk yang berguna untuk perawatan kesehatan dan kecantikan.

Leluhur kita menggunakan resep yang terbuat dari daun, akar dan umbi-umbian untuk mendapatkan kesehatan dan menyembuhkan berbagai penyakit, serta persiapan-persiapan lain yang menyediakan perawatan kecantikan muka dan tubuh yang lengkap. Campuran tanaman obat traditional ini di kenal sebagai JAMU. Dimana Indonesia dikenal sebagai negara nomor 2 dengan tanaman obat tradisional setelah Brazilia.

Jamu Gendong
Sejarah jamu gendong seiring perjalanan sejarah kerajaan Mataram Islam. Wiku, orang pintar atau dukun yang pertama kali membuat ramuan dari tumbuh-tumbuhan yang kemudian dijajakan dengan cara dipikul laki-laki dan digendong oleh perempuan.

Di antara kedua cara ini, jamu gendong inilah yang tetap berjalan hingga sekarang. Jenis jamu gendong bermacam-ragam seperti cabe puyang, beras kencur, dan daun pepaya. Jamu gendong yang populer sampai sekarang adalah beras kencur yang berkhasiat menghilangkan pegal-pegal pada tubuh. Selain itu, dapat merangsang nafsu makan. Bahan pokoknya adalah beras dan kencur. Sebagai pemanis digunakan gula merah dicampur gula pasir dan ditambah sedikit garam


iNdOneSiA sAdJa




28 April 2009

Ebeg adalah salah satu kesenian tradisional yang gaungnya sudah tidak lagi nyaring terdengar. Namun di beberapa tempat di Jawa Tengah, Masih ada grup kesenian ebeg yang bertahan dan tetap setia menghibur penggemarnya.

Ebeg sangat kental dengan alam gaib. Sebuah bagian yang pernting yang membuat kesenian ini bisa bertahan.

Bagi sebagian masyarakat di Jawa Tengah, kesenian ebeg ini sangat terkenal dan setiap pementasannya selalu menarik banyak penonton. Biasanya mereka tampil dalam sebuah hajatan. Sekali pentas mereka mendapat bayaran antara 700 hingga satu juta rupiah. Tidak terlalu mahal, untuk menyemarakan hajatan di kampung – kampung.

Dan ini salah satu grup ebeg di Desa Bumi Agung, Kecamatan Rowokele, Kebumen, yang masih bertahan. Kesenian ini kabarnya sudah ada sejak jaman Pangeran Diponegoro, sekitar abad ke 18. Para pemainnya begitu bangga disebut pasukan penunggang kuda, kendati kuda yang mereka tunggangi hanya terbuat dari anyaman bambu
Satu grup ebeg biasanya terdiri dari dua puluh orang. Selain ketua rombongan, ada pemain, penabuh gamelan dan penimbul. Yang menarik adalah penimbul. Dialah yang bertugas memanggil dan memulangkan arwah atau indang. Penimbul juga harus pandai mengendalikannya, para pemain yang sudah kerasukan hebat.

Selain itu, dia juga harus bisa melindungi seluruh anggota tim dan penonton, bila ada seseorang yang jahil sengaja mengacaukan pertunjukan atau sekedar menjajal ilmu-nya. Bila terjadi, biasanya sang penari tidak mampu bergerak. Oleh karena itu, penimbul ini benar - benar harus orang yang memiliki ilmu yang tinggi.

Ebeg adalah pestanya para arwah atau indang, sehingga indang selalu meminta suguhan layaknya manusia. Asap kemenyan yang diumpamakan sebagai nasi dan bunga sebagai sayuran. Berbeda dengan mantra jaelangkung yang datang tak diundang pulang tak diantar. Maka indang, pulang harus diantar.

Ada puluhan gending yang biasanya mengiringi pertunjukan ebeg. Empat diantaranya sangat berpengaruh mengundang indang. Mereka adalah cempo, eling eling, kembang jeruk dan ricik – ricik.

Para penikmat ebeg biasanya sudah memahami benar, apabila salah satu dari keempat gending itu dimainkan, maka sudah pasti para indang akan segera datang dan merasuki para penari. Sulit mempercayainya. Tetapi itulah ebeg, kesenian kita yang khas dan mengakar, dimana estetika dan alam gaib tidak bisa dipisahkan.

Sastro Ngadimin yang berusia enam puluh tahun ini adalah pemimpin ebeg Turonggo Jati di Desa Bumiagung di Kebumen, Jawa Tengah. Sehari sebelum mentas di suatu hajatan, Ngadimin yang sudah menjadi penari ebeg lebih dari tiga puluh tahun ini, selalu menjalin kontak dengan arwah leluhur yang bermukim di makam tua di sudut kampung. Ia selalu harus melakukan ini agar pertunjukan yang digelarnya berlangsung tanpa halangan.

Penimbul dan ketua grup memasang pagar gaib di setiap sudut halaman dengan menebar bunga. Baik penimbul dan ketua indang harus membuat semacam perjanjian dengan indang. Kapan pertunjukan dimulai dan kapan harus berakhir.

Mereka tidak berani mengingkari, karena bila batas waktu pertunjukan dilampaui, indang bisa saja nyasar kemana mana dan bisa menimbulkan malapetaka.

Saatnya Pertunjukan Dimulai

Para pemain masih dalam tingkat kesadaran yang penuh. Mereka mempertontonkan kebolehannya menari. Hingga tiba saatnya janturan, yakni puncak dari pertunjukan ebeg. Gending mulai berubah menjadi gending eling eling, dengan tempo yang cepat.

Para penari mempercepat tarianya mengikuti irama gending. Pengaruh magis semakin terasa. Seolah – olah indang berada di atas – melayang - layang. Bau kemenyan menebar kemana – mana dan terasa sangat menusuk hidung. Mereka yakin indang makin mendekat. Dan sebagian penonton muali bertingkah aneh.

Pada saat seperti ini, orang kehilangan kesadaraanya. Namun mereka tetap harus segera disadarkan agar tetap bisa menari, kendati masih dalam pengaruh indang. Namun gerakan sebenarnya sudah mulai berubah. Patah – patah dan monoton.

Menurut Ngadimin – sang ketua, indang sebenarnya sudah masuk ke dalam tubuh dan berada di ruas - ruas tulang manusia. Semakin banyak indang atau arwah yang datang diundang, pesta akan semakin meriah, sehingga biasanya penari bisa kesurupan lebih dari tiga kali. Sering terjadi, penari yang sudah pulih, kembali hilang kesadarannya.

Kalau sudah begini suasana memang kacau dan tidak terkendali. Tugas penimbulah yang menjadi berat. Apabila jumlah indang yang datang lebih banyak dari penari, maka penonton yang menjadi sasaran. Indang menggunakan mereka sebagai perantara. masyarakat di sini menyebutnya mendem. Ada juga orang yang sengaja ingin mendem. Ketua rombongan atau penimbul, akan memberikannya.

Seperti orang ini. Ia memang meminta indang merasukinya, sehingga spontan menjadi pandai menari.

Penonton yang sedang mendem atau kesurupan bisa juga menularkanya kepada temanya. Caranya dengan menyemburkan air kembang atau memandang lalu menjejakan kakinya ketanah tiga kali. Pertunjukan usai. Penimbul harus menepati janji untuk memulangkan kembali arwah ke tempat dimana mereka bermukim.

Ini pekerjaan berat, karena ada saja indang yang tidak mau diantar pulang. Ia masih masih keluar masuk merasuki tubuh penari. Kata Sastro Ngadimin, indang seperti biasanya masih anak -anak.

Kalau sudah begini, biasanya Sastro Ngadimin yang akan mengambil peran. Ia mengucapkan kata – kata yang ditakuti oleh indang. Indang seharusnya dipulangkan dengan membuat dupa dan kemenyan namun cara ini sangat merepotkan. Penimbul memilih cara lain, yakni memasukannya ke dalam kendang, lalu dipulangkan secara bersamaan di halaman rumah yang punya hajat.

Ebeg ini tidak beda dengan kesenian kuda lumping. Kekuatan mistis memang menjadi daya tarik ebeg ini. Kebudayaan pop dan moderenisasi membuat kesenian ini menjadi tidak menarik lagi bagi sebagian orang yang tinggal di kota besar. Namun di pedesaan ebeg masih hidup. Ponimin dan Tritianto adalah dua remaja di kampung ini yang hampir setiap hari datang ke rumah sang ketua rombongan.

Seminggu sekali mereka menimba ilmu ini dari Sastro Ngadimin. Pengalaman mistis yang membuat kedua remaja ini tertarik. Saat kerasukan, indera mereka katanya masih berfungsi baik, namun pengaruh indang menyebabkan mereka kehilangan rasa malu dan sakit saat tubuh mereka jatuh bergulingan. Ponimin dan Tristianto sangat yakin dengan kekuatan gaib itu dan barangkali hal itu pula yang menyebabkan ebeg diminati dan hingga kini bisa bertahan.

Dan ebeg hanyalah salah satu dari sekian banyak kesenian tradisional di Indonesia yang menonjolkan kekuatan supernatural.

Terlepas dari itu, sebagai sebuah seni pertunjukan, ebek begitu atraktif dan sangat menghibur. Hal ini yang membuat Sastro Ngadimin terus mengabdikan diri untuk kesenian ini. Ia bercita – cita ebeg harus bisa lebih dari itu, bukan hanya sekedar pelengkap sebuah hajatan.


Sumber : indosiar.com

Edited -


iNdOneSiA sAdJa




Wayang Kulit



Sebagaimana masyarakat Jawa pada umunya, masyarakat Banyumasan juga gemar menonton pertunjukan wayang kulit.

Pertunjukan wayang kulit di wilayah Banyumas lebih cenderung mengikuti pedalangan “gagrag” atau gaya pedalangan khas Banyumasan. Seni pedalangan gagrag Banyumasan sebenarnya mirip gaya Yogya-Solo bercampur Kedu baik dalam hal cerita, suluk maupun sabetannya, bahasa yang dipergunakanpun tetap mengikuti bahasa pedalangan layaknya, hanya bahasa para punakawan diucapkan dengan bahasa Banyumasan. Nama-nama tokoh wayang umumnya sama, hanya beberapa nama tokoh yang berbeda seperti Bagong (Solo) menjadi Bawor atau Carub. Menurut model Yogya-Solo, Bagong merupakan putra bungsu Ki Semar, dalam versi Banyumas menjadi anak tertua. Tokoh Bawor adalah maskotnya masyarakat Banyumas.
Ciri utama dari wayang kulit gagrag Banyumasan adalah nafas kerakyatannya yang begitu kental dan Ki Dalang memang berupaya menampilkan realitas dinamika kehidupan yang ada di masyarakat.

Tokoh pedalangan untuk Wayang Kulit Gagrag Banyumasan yang terkenal saat ini antara lain Ki Sugito Purbacarito, Ki Sugino Siswacarito, Ki Suwarjono dan lain-lain.


iNdOneSiA sAdJa




Rasisme Bahasa Jawa



Bahasa jawa adalah salah satu bahasa yang mengagungkan tingkatan (sepetahuan saya, bahasa Sunda juga demikian, tapi tidak serumit bahasa Jawa). Secara garis besar, bahasa Jawa dibagi dalam tiga tingkatan besar:

1. Ngoko (tingkatan terendah)
2. Madya (tingkat menengah); dan
3. Kromo (tingkat tertinggi). Itu pun masih bisa dibali lagi dalam dalam sub tingkatan:

1. Andhap (rendah/kasar); dan
2. Inggil (tinggi/halus).

Tingkatan dan sub tingkatan tersebut menghasilkan kombinasi yang tidak sederhana, njelimet dan sulit dipahami. Bahkan oleh orang jawa sekali pun.


Ngoko (kasar dan halus) biasanya dianggap sebagai bahasanya masyarakat umum, rendahan, kuli, petani, atau paling banter antar teman karib (itu pun dianggap tidak pantas digunakan oleh kaum ningrat). Kromo digunakan oleh kalangan yang dianggap memiliki kasta tinggi, terdidik, pintar dan waskito. Macam keturunan ningrat, pamong de es be. Madya? Ya, di antara keduanya. Penggunaan sub kategori kasar dan halus pada masing-masing tingkatan memerlukan keahlian yang tidak sederhana.

Bahasa macam mana yang kita gunakan dalam menghadapi seseorang, menunjukkan siapa diri kita. Golongan rendah, atau anak-anak muda harus menggunakan tingkatan bahasa yang lebih tinggi kepada mereka yang lebih tua atau lebih tinggi derajatnya. Semakin tinggi orang yang kita hadapi, semakin tinggi pula bahasa yang kita gunakan. Menghadapi golongan tertinggi, si pengucap harus menggunakan bahasa level tertinggi pula, kromo inggil. Saya tak tahu, apakah ada yang lebih tinggi dari itu. Sebaliknya, semakin tinggi derajat pengucap, dia boleh menggunakan bahasa dengan tingkatan yang lebih rendah kepada lawan bicara yang lebih rendah. Seorang yang berkedudukan tinggi, raja misalnya, boleh-boleh saja menggunakan level bahasa mana saja yang dia mau. Terus terang, pada tingkat aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari, saya tidak menguasai. Saya termasuk golongan pengguna boso Ngoko.

Orang jawa yang lihai berbahasa Jawa, terutama dalam tingkatan Kromo, dianggap sebagai manusia berbudaya dan berbudi luhur. Manusia yang tahu roso (halus perasaannya, hal yang sangat penting dalam budaya Jawa), dan bertata-krama. Mereka disebut "Wong Jawa sing njawani", orang Jawa yang hidup secara jawa. Dan itu sebuah kebanggaan tersendiri.

Lantas, apa hubungannya dengan rasisme? Ya itu tadi. Penggunaan dan penguasaan bahasa Jawa menentukan tingkat seseorang. Semakin rendah bahasa yang dikuasai, semakin rendah derajat seseorang. Itulah mengapa, orang-orang tua sering menganggap orang luar Jawa sebagai "kurang tata kramanya". Lebih celaka lagi, orang yang terlahir sebagai Jawa tetapi kurang mengerti bahasa Jawa. "Wong Jawa sing ilang jawane", orang Jawa yang tidak memegang tradisi, begitu mereka disebut. Biasanya, orang Jogja-Solo menganggap dirinya sebagai penutur Jawa kelas satu. Di luar itu, dianggap sebagai penutur kelas dua, tapi masih dengan senyum memaklumi.

Nah, sekarang kita menginjak kelas ketiga. Kelas yang sepertinya selalu jadi bahan olok-olokan. Dialek Banyumasan (dan juga Tegal)!

Bahasa Banyumasan (digunakan masyarakat Banyumas, Cilacap, sebagian Kebumen, Purbalingga, Pekalongan dan sekitarnya) sering dianggap sebagai kelas pinggiran karena pengucapan yang berbeda jauh dari kaidah baku bahasa Jawa. Pelafalannya yang jelas, tegas dan hampir tidak mengenal huruf "O" sebagaimana umumnya pelafalan Jawa, membuat orang Banyumas sangat mudah dikenali, bahkan oleh orang yang tidak paham bahasa jawa. Banyumasan tidak mengenal kelas. Semua penuturnya adalah setara. Tapi justru disitulah cacatnya. "Tidak paham Jawa!", begitu kata sebagian orang. Meski Prof. Damardjati Supadjar pernah berujar: "Bahasa Banyumasan adalah bahasa yang paling jujur dan egaliter dalam khasanah bahasa Jawa", toh beliau tidak mewakili golongan mayoritas.

Cobalah perhatikan. Saat seorang penutur Banyumasan berkenalan dengan penutur Jawa kelas satu, kata pertama yang biasanya hampir pasti terlontar dengan ekspresi menahan tawa adalah: "Oh, ngapak-ngapak?" atau "kowek-kowek ya?". Sebuah introduksi yang jelas menunjukkan ketidak-setaraan. Sekali dua kali, bisa kita anggap biasa saja. Tapi jika hal yang sama anda alami beratus kali, susah untuk tidak merasa rasis dan sakit hati. Setidaknya, begitulah yang selalu saya alami selama bertahun-tahun. Dari ujung Jawa Timur hingga Jakarta sekalipun. Oke, mungkin tidak semuanya. Tapi seringnya perkenalan yang demikian, membuat saya berfikir: "Jangan-jangan mereka menganggap orang Banyumas sebagai masyarakat tidak berbudaya dan primitif? Golongan para badut?".

Saya jadi ingat, teman saya, sebut saja Sudar, yang asli Jogja pernah berkata dengan sinis tentang cewek ayu, cantik dan semlohay yang ditaksirnya tapi kemudian baru dia ketahui sebagai orang asli Banyumas: "Wong ayu kok ngomonge blekuthuk-blekuthuk. Ra sudi aku!".

Nah, lo!


iNdOneSiA sAdJa




;;


Kembali ke halaman muka Mohon untuk selain admin untuk jangan klik disini!! PROMOSIKAN GRUP MUSIK / BAND / GRUP DANGDUT dll MILIK ANDA DI BLOG INI. Klik Aku donK!!